Showing posts with label Blogger Buku. Show all posts
Showing posts with label Blogger Buku. Show all posts

Friday, May 11, 2012

Review Dion Yulianto

http://www.goodreads.com/review/show/326585356


's review 
May 11, 12

3 of 5 stars false
Read from May 08 to 11, 2012

Jika ada yang bilang bahwa para penulis cerita pendek itu menyiksa diri mereka sendiri (dan juga pembaca) dengan menuliskan karya yang, alih-alih menghibur, tapi ber-ending aneh; mungkin itu benar. Lewat bentuknya yang pendek, yang hanya sepotong cerita, cerpen dituntut untuk mampu menghasilkan efek pembacaan serupa novel. Hanya saja, karena wujudnya yang hanya sepotong itu, cerpen haruslah bersifat irit dan berhemat habis-habisan demi menyampaikan maksud si pengarang lewat 3 sampai 6 halaman saja. Seperti Perkara Mengirim Senja, sebuah kumpulan cerpen yang dari judulnya saja sudah sangat ganjil. Siapakah Perkara itu sehingga ia berani mengirimkan senja? Dan, apakah senja itu sendiri sehingga ia bisa dikirimkan ke sembarang orang sesuka hati. Yah, bukan cerpen namanya kalau tidak ganjil karena di dalam keganjilannya itulah ia menyimpan magnet bagii orang-orang untuk membacanya.

Perkara Mengirim Senja (PMS), sebagaimana kata kuncinya yakni “senja” merupakan kumpulan cerpen dari orang-orang muda modern, yakni mereka yang pernah menikmati dan sempat terkagum oleh cerpen-cerpen guratan salah satu maestro sastra Indonesia, Seno Gumira Ajidaarma. Lewat PMS ini—yang bahkan singkatan judulnya pun membuat beberapa pembaca berjengit—para pembaca yang kemudian menjadi cerpenis ini hendak merayakan kekuatan imajinasi seorang SGA dalam melukiskan cinta lewat untaian kata-kata. Ada 15 cerita dengan 14 penulisnya, plus pengantar agak nyastra dari Anton Kurnia, yang seperti biasa mampu membawakan lezatnya aroma sastrawan dalam tulisan-tulisan singkatnya. Kesemuanya berpadu dan menaut dalam satu buku, dipersatukan oleh kehebatan seorang pemuda yang mengirimkan sepotong senja untuk pacarnya, sebagaimana salah satu cerpen karya SGA yang fenomenal “Sepotong Senja untuk Pacarku”

1. Gadis Kembang
Cerpen karya penulis Bintang Bunting ini mengangkat topik tentang rekayasa cinta. Sebagaimana senja yang bisa dipotong, dalam sastra ternyata cinta juga bisa direkayasa sedemikian rupa. Lewat cerpen ini, penulis sepertinya hendak menyindir kemunafikan cinta yang tiak cukup satu, tapi berdua-dua dengan yang lainnya pula.

2. Perkara Mengirim Senja
Cerita yang dijadikan judul kumcer ini—mungkin karena judulnya yang begitu ganjil seganjil senja yang bisa dipotong—mengisahkan tentang orang yang menjual senja untuk dinikmati. Karena dalam sastra senja bisa dipotong, maka sah-sah saja jika ada yang kemudian mau menjual senja dengan beraneka ragam warna dan rasa. Kelebihan cerita ini adalah kosakatanya yang sangat berwarna, pemikiran yang tidak biasa, dan bahasa yang berbunga.

3. Selepas Membaca Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, Alina menulis Dua Cerita Pendek Sambil Membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya
Cinta begitu aneh dan ganjil, sehingga bisa memaksa seorang penulis untuk menghasilkan judul sepanjang itu. Dan, lagi-lagi, karena dalam sastra senja itu sah-sah saja untuk dipotong, maka judul yang panjang tanpa dipotong adalah juga wajar-wajar saja. Ini adalah cerita tentang kesetiaan terhadap cinta, di mana kadang kesetiaan itu begitu pekat hingga membutakan logika, membuat seorang suami tega memasung istrinya dengan celana dalam dari besi dan juga membutakan seorang istri terhadap suaminya yang mandul. Yang jelas, ada dua cerita dalam satu judul panjang ini. Barangkali, judul cerpen ini memang terlalu panjang sehingga menghasilkan dua cerita dengan bingkai yang sama. Biar adil, begitu mungkin kata penulisnya.

4. Kuman
Cedera atau racun masa lalu terbukti menjadi tidak ada apa-apanya dihadapan cinta. Cerita ini membuktikannya. Bahwa ada seorang gadis cantik yang merasa jijik dan kemudian jatih cinta pada seorang bartender buruk rupa, itu adalah hal yang biasa di hadapan cinta. Sebagaimana kata mereka, cinta itu buta. Namun, di saat yang sama, cinta juga seringkali diawali dengan memandang rupa.

5. Ulang
Celotehan sang pengarang Biru Indingo terasa begitu scientific dalam cerita “Ulang”. Tentang sebuah cerita misteri yang katanya terjadi di masa depan di puncak Gunung Himalaya, entah apa maksudnya tapi saya belum bisa menangkap inti dari “Ulang”. Yang jelas, di sini ada tokoh Sukab dan Alina yang memang muncul dalam cerpen-cerpen SGA. AH, mungkin saya harus membaca cerpen-cerpen beliau dulu agar bisa lebih memahaminya.

6. Akulah Pendukungmu
Cara membaca judul ini adalah dengan dinyanyikan karena itu bagian dari lagu “Garuda Indonesia”. Ibarat cerita fantasi, alkisah hiasan dinding Garuda Pancasila di dinding kelas itu bisa berbicara di malam hari, demikian juga poster foto presiden dan wakil presiden yang biasa terpajang di setiap kelas. Setiap tahun sekali, di Hari Kesaktian Pancasila, hiasan garuda itu diperkenankan untuk mewujud dan melakukan sesuatu yang hebat. Apa yang akan dilakukannya tahun ini? Silakan baca sendiri.

7. Empat Manusia
Cuma cerita ini yang sejauh ini mendapatkan banyak sekali tempelan kertas post-it-notes karena begitu banyaknya kutipan indah tentang perayaan cinta dan kehidupan. Bahwa perjalanan waktu hanya bisa dilakukan ke masa lampau dan bahwa cemburu itu selalu datang menyertai cinta yang teramat sangat, itulah yang paling menyantak dari “Empat Manusia” ini. Pada akhirnya, cinta terkadang tidak lah benar-benar suci dan tulus seperti kelihatannya. Empat manusia, Hendar, Susan, Yani dan Purba membuktikannya.

8. Saputangan Merah
Cabikan memori yang datang menyergap oleh keberadaan sapu tangan merah beraroma rempah telah meninggatkan seorang pria akan hadirnya seorang wanita misterius namun mampu menawan hatinya. Entah apa maksud dari cerita ini, sepenangkapan saya ini adalah tentang cinta yang biasanya memang sering kali datang dengan tiba-tiba.

9. Senja dalam Pertemuan Hujan
Cukuplah kutipan berikut ini untuk menyampaikan keindahan dari cerpen ini karena saya juga pusing menangkap maknanya:
“Aku suka senja. Senja mengantarai terang dan gelap. Seperti ibu yang menemani anaknya hingga tidur. Hangat dan nyaman.” (hlm 97)

10. Kirana Ketinggalan Kereta
Contoh dari sebuah cerpen arus utama, yakni cerita dengan ending tak terduga, yang biasanya muram. Adalah Gupta yang habis mengantarkan kekasihnya Kirana ke stasiun karena Kirana hendak pergi ke “kota lain”. Ternyata, Kirana telah ketinggalan kereta dan mereka pun akhirnya mencari kereta lain di bibir jurang. Pembaca pasti bisa menebak “kereta” dan “kota lain” yang dimaksud di sini.

11. Gadis Tak Bernama
Cerobohnya cinta sehingga begitu angkuh ia untuk memotong senja dan menghadiahkannya untuk pacarnya. Sayangnya, kali ini kecerobohan sang pemuda berhasil diketahui oleh seorang gadis tak bernama yang bertigas sebagai seorang peneliti senja. Akhirnya, ia menemukan cara agar senja tetap aman dan tidak dipotong-potong lagi seenaknya oleh para pecinta yang lupa diri, walaupun dengan cara yang tidak kalah gilanya.

12. Guru Omong Kosong
Coba apa yang akan terjadi ketika Pak Dikin yang hanya seorang penjaga sekolah mengantikan tugas para guru dalam mengajar di kelas? Hasilnya, sebagaimana buku panduan aneh yang ditemukan Pak Dikin, adalah omong kosong dari sebuah kitab Omong Kosong. Entah dalam cerita ini penulis hendak mengkritik pekerjaan cerpenis yang hanya meributkan hal-hal indah tapi kurang penting ataukah ia hendak menunjukkan bahwa menjadi guru itu tidak hanya bisa dilakukan sambil lalu karena tanggung jawabnya yang sangat besar.

13. Surat ke-93
Cenungkan (renungkan) apa yang sebenarnya terjadi sampai seorang wanita rela mengirimkan 93 surat berturut-turut untuk kekasihnya yang telah pergi meninggalkannya untuk mencari penghidupan di kota. Mungkin kisah ini adalah kisah cinta yang buta atau sang gadis yang memang begitu mencintai kekasihnya. Namun, penulis cerita ini mampu membuktikan kedalaman bahasa dan pesan-pesan yang termuat di ceritanya. Paragraf-paragraf di dalamnya penuh dengan petuah dan sindiran terhadap kehidupan kita sehari-hari. Cerita ini yang harus Anda baca, jangan dilewatkan walaupun adanya di hampir paling belakang.

14. Bahasa Sunyi
Bermula dari sebuah kartu pos berisi senja, pecinta itu melanjutkan kisah cinta jarak jauhnya lewat BBM. Dan, dari BB itu juga cinta sekaligus bukti penghianatan janji sucinya.

15. Satu Sepatu, Dua Kecoak
Mengapa Om Bram yang kaya, modis, tampan dan perlente itu tidak mampu membahagiakan Tante Asih? Bagaimana pengaruhnya terhadap Reta, putri angkatnya? Mengapa pula Reta membuang sepatu-sepatunya ke kali? Entahlah, bacalah kumcer ini di saat senja hari agar kau mengerti!

Maafkan saya jika pembacaan ini kurang tepat, saya memang membaca cerpen-cerpen ini pada dini hari menjelang fajar, kebalikan dari waktu senja itu sendiri.

Pujian terutama untuk kertas covernya yg sangat ekslusif dengan kertas tebal bertekstur. Penghargaan setinggi-tingginya untuk ilustrasi-ilustrasi indah yang sangat mewakili di halaman-halaman buku ini, yang menjadikan buku kumcer ini bagus dan begitu berbeda dengan buku-buku sejenis. Selamat merayakan senja.

Akhirnya, saya selesai membaca kumcer ini jam 15.55 ... satu-dua jam menjelang senja.

Monday, April 30, 2012

Tentang Berperkara Dengan Senja

Sumber: http://tikazefanya.tumblr.com/post/22029975706/tentang-berperkara-dengan-senja

Sebuah review dari antologi cerpen “Perkara Mengirim Senja” yang didedikasikan untuk Seno Gumira Ajidarma.
Tentu saya bukan satu-satunya orang yang merasa asing dengan nama Seno Gumira Ajidarma. Dan jujur, alasan saya membeli buku ini adalah karena saya tertarik dengan judulnya. Yah, saya jatuh hati kepada senja!
Di buku ini, terdapat 15 cerpen dari 14 penulis muda berbakat, yang akan membawa kita untuk lebih mengetahui sosok seorang sastrawan yang karya-karyanya banyak menginspirasi pembaca khususnya orang muda, Seno Gumira Ajidarma.
Jangan aneh jika kalian akan menemukan begitu banyak kata senja dan cinta dalam buku ini, serta nama sepasang anak manusia, Alina dan Sukab. Karena memang hal-hal itulah yang sering muncul dalam cerita-cerita Seno Gumira Ajidarma.
Sekarang, saya akan mencoba untuk me-review ke 15 cerpen yang ada di dalam buku ini.
Cerpen pertama dibuku ini berjudul Gadis Kembang karya Valiant Budi Yogi (@vabyo). Tulisan ini lekat dengan ciri penulisnya. Bagian akhir, adalah inti dari setiap tulisannya. “Bisik-bisik membuas luas. Ada yang terperdaya, sebagian terlena, sisanya hanya bisa menerka. Selamat merekayasa cinta…”
Kemudian diikuti oleh sebuah cerpen karya Jia Effendie (@JiaEffendie) yang sekaligus menjadi judul dari kumpulan antologi ini, Perkara Mengirim Senja. Cerpen ini mampu membuat kalian merasa bagaimana memperjuangkan cinta yang tak sampai. “Aku yang paling tahu bagaimana mencintainya, tetapi dia tak pernah tahu untuk memilihku.”
Selanjutnya sebuah cerpen karya M. Aan Mansyur (@hurufkecil) yang judulnya terdiri dari 122 karakter huruf. Cerpen ini mengisahkan tentang kehidupan berumah tangga. Istri yang begitu menuruti apa kata suami, dan suami yang begitu menjaga sang istri sampai-sampai memakaikan celana dalam besi untuk istrinya. Entah siapa yang mencoba untuk selingkuh terlebih dahulu. “Ada lebih banyak kata-kata dalam diam.”
Kuman karya Lala Bohang (@lalabohang), mengatakan: “Bahwa cinta memiliki kemampuan menggandakan diri untuk dua orang berbeda dalam kadar yang sama, baru saja terkuak.”
Karya berikutnya dari Putra Perdana (@putrafara) yang berjudul Ulang. Sebuah cerpen deskriptif dengan kalimat pembuka, “Akan kuceritakan kisah misteri terpendek di dunia. Manusia terakhir… mendapat ketukanpintunya.”
Dan Akulah Pendukungmu karya Sundea, mengajakmu untuk membaca judul cerpennya sambil dinyanyikan. Karna itu adalah bagian dari lagu Garuda Pancasila. Dari cerpen ini kalian bisa merasakan tentang mengagumi dalam diam. “Waktu adalah pesaing yang tidak kenal ampun.. Ia tidak mau bertoleransi sedikit pun.”
Empat Manusia karya Faizal Reza (@monstreza). Sebuah cerpen dengan satu judul yang terdiri dari empat bagian, yang akan membuat kalian menemukan begitu banyak quote manis disini. Salah satunya, “Kalau kita masih harus sama-sama menunggu, kenapa aku harus menunggumu sendirian sementara kau menungguku bersama orang lain?” Dan cerpen ini terinspirasi dari Empat Adegan Ranjang.
Berikutnya adalah Sapu Tangan Merah, karya Utami Diah (@tummythumb). Dari cerpen ini saya menyimpulkan bahwa; Jika kau cinta, katakan! Jangan tunggu kau mendapati penyesalan, baru kau menghargai apa itu pertemuan.
Diikuti Senja dalam Pertemuan Hujan karya Mudin Em (@omemdisini) yang memaksa saya membaca cerpen ini sampai dua kali agar saya benar-benar mengerti siapa “ia” dan “dia” yang dimaksudkan dalam cerpen ini. Cerpen ini bercerita tentang perselingkuhan. Dan saya berdecak kagum akan tulisan ini. “Bukankah tiada yang pernah tahu kapan dan di mana cinta akan datang? Siapa pula yang bisa menebak siapa yang hendak singgah?”
Ada juga karya dari seorang Maradilla Syachridar, yang berjudul Kirana Ketinggalan Kereta. Cerpen ini bercerita tentang sepasang kekasih yang belum move on. Memutuskan untuk berpisah, tapi masih saling mencinta. Masih saling berhubungan. Dan masih saling memiliki harapan untuk membangun masa depan berdua. Perempuan yang rumit dan lelaki yang mencintai perempuan itu dengan segala kerumitannya. “Dan yang paling menyebalkan, sebenarnya aku lelah dengan diriku sendiri.”
Berikutnya, cerpen yang paling saya sukai dari buku ini. Gadis Tidak Bernama, karya Theoresia Rumthe(@perempuansore). Persetan dengan ada tidaknya itu Dinas Peneliti Senja. Yang saya tahu, saya begitu menggilai gaya bahasa dari penulis perempuan yang begitu menginspirasi saya ini. Satu quote yang saya amini adalah, “Sebagai perempuan, saya manipulatif. Saya mendambakan petualangan dalam hidup!”
Omong Kosong karya Arnelis (@arnellism), bercerita tentang seorang penjaga sekolah yang akhirnya berkata, “Tenang, saya bukan guru omong kosong.”
Rindu tak terbalas dari seorang perempuan yang terangkum dalam cerpen berjudul Surat ke-93 karya Feby Indriani, membuat kalian mampu menyelami sendu dari rindu yang tak terbalas. “Apa lawan dari cinta? Bukanlah benci, melainkan ketidakpedulian.”
Bahasa Sunyi karya Rita Achdris mampu membuat kalian yang membaca cerpen ini tersenyum kecil karena merasa tergelitik diakhir ceritanya. “kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia.”
Cerpen terakhir di buku ini adalah Satu Dua Sepatu, Kecoak.. karya Sundea, yang terinspirasi dari Lelaki yang Terindah. Cerpen ini mengandung pesan bahwa pernikahan tidaklah selalu soal kebahagiaan.
Nah, gimana? Penasaran? Buat kalian yang belum memiliki Buku Perkara Mengirim Senja, silahkan preorder ke:http://poscinta.com/pms/
Dan lihat trailer buku ini di: http://www.youtube.com/watch?v=sHtkvDCIjfk

Friday, April 27, 2012

169 Kata Senja dan 105 Kata Cinta


Sebuah review dari antologi cerpen Perkara Mengirim Senja, sebuah persembahan untuk Seno Gumira Ajidarma.
Jujur saja, saya belum pernah membaca satupun karya Seno Gumira Ajidarma (bahkan saya pikir A dalam SGA itu singkatan dari Atmaja), hadirnya antologi ini menguak pemikiran saya dan pembaca yang awam tentang SGA, menjadi tahu siapa beliau. Seperti serial Glee yang me-remake lagu-lagu dulu, dan meningkatkanpublic awareness dari lagu-lagu tersebut, Perkara Mengirim Senja pun memberikan kesan yang mirip. Pembaca yang belum mengenal siapa itu SGA (contohnya saya), diajak untuk mengenali lebih jauh tentang penulis idola para cerpenis yang ikut menulis di Antologi ini.
Terdapat 15 cerpen dari 14 cerpenis muda, dengan ide-ide segar dan bahasa tulisan yang beragam, Perkara Mengirim Senja merupakan satu paket hampir lengkap untuk sebuah persembahan bagi SGA.
Sekarang, saya akan me-review satu persatu cerpen yang ada di antologi ini,
Dibuka dengan Gadis Kembang karya Valiant Budi Yogi, ringan (dengan gaya penulis yang menyelipkan rima dalam beberapa kalimatnya) namun tetap membuat saya sampai tiga kali membaca bagian akhirnya, twist.
Perkara Mengirim Senja, adalah judul cerpen kedua sekaligus judul antologi ini. Di sini Jia Effendie terinspirasi dari karya SGA yang fenomenal yaitu ‘Sepotong Senja Untuk Pacarku’. Cerpen ini membuat saya merasa trenyuh akan kisah kasih tak sampai.
Cerpen berikutnya dari Aan Mansyur, judulnya terlalu panjang untuk saya tuliskan di sini. Cerpen ini terbagi menjadi dua bagian, bagian pertama sangat mengagumkan, dan somehow inspiratif.
Kuman dari Lala Bohang adalah cerpen favorit saya dari seluruh cerpen yang ada di antologi ini. Cara penulisan dan deskripsi tokohnya membuat saya bisa merasakan apa yang dialami oleh si tokoh utama.
Putra Perdana menuliskan Ulang, terinspirasi dari beberapa cerpen SGA. Keunikan dari cerpen ini adalah, susah mencari quote di cerpen ini karena cerpennya deskriptif.
Akulah Pendukungmu, karya pertama Sundea di cerpen ini. Dari judulnya saja, sebagian besar pembaca pasti sudah bisa menebak bahwa ini adalah cerpen tentang Garuda Pancasila.
Penulis macho, Faizal Reza ikut serta dengan karyanya berjudul Empat Manusia, cerpen terdiri dari empat bagian yang merupakan sebuah lingkaran. Empat Manusia sendiri terinspirasi dari Empat Adegan Ranjang. Ada satu kesalahan di cerpen ini, yang jeli pasti bisa menebaknya. ;)
Kisah dalam cerpen Lipstik milik SGA, menginspirasi Utami Diah K. untuk menulis Saputangan Merah, sebagai cerpen kedelapan di antologi ini.
Senja Dalam Pertemuan Hujan, awalnya saya pikir ‘ia’ dan ‘dia’ ini diciptakan sendiri oleh sang pengarang, Mudin Eym, namun ternyata ini terinspirasi dari cerpen SGA yang lain, yaitu Hujan, Senja dan Cinta. Cerpen ini mengisahkan tentang perselingkuhan, mungkin terinspirasi dari pengalaman pribadi sang penulis ya. *digetok Eym*
Maradilla Syachridar, penulis cantik berbakat ini menuliskan Kirana Ketinggalan Kereta. Sebuah kisah tentang rasa putus asa, yang ditulis dengan manis.
Gadis Tak Bernama karya Theoresia Rumthe unik. Pembaca dibawa ke dalam kisah yang absurd dan panjang, pernahkah mendengar tentang Dinas Penelitian Senja?
Dikin, seorang penjaga sekolah yang ditugasi mengajar anak-anak SD, menjadi tokoh sentral dalam cerpen Guru Omong Kosong karya Arnellis. Dengan ending yang menggantung, rasanya seperti hendak mengucapkan suatu kata, tapi tak sempat terucap.
Kisah sendu seorang perempuan yang terabaikan, terangkum dalam Surat Ke-93 karya Feby Indirani. Memang, lawan kata dari cinta bukanlah benci, tapi ketidakpedulian.
Bahasa Sunyi karya Rita Achdris adalah cerpen paling up-to-date dari seluruh cerpen dalam antologi ini, menggunakan isu hangat beberapa minggu lalu, dan pasti pembaca tersenyum kecil saat membaca endingnya.
Satu Sepatu, Dua Kecoak. Cerpen kedua Sundea (dan cerpen terakhir di antologi Perkara Mengirim Senja) ini memaparkan bahwa pernikahan bukanlah melulu kebahagiaan, dan orang yang tidak bahagia mempunyai kecenderungan untuk ingin segera mati. Inspiratif!
Pernah melihat trailer dari sebuah novel? Silakan lihat trailer dari Perkara Mengirim Senja di sini.

- Perkara Mengirim Senja -



- Perkara Mengirim Senja -


bukan review

sebuah buku yang dipersembahkan untukSeno Gumira Ajidarma.

buku yang mencantumkan 169 kata senja dan 105 kata cinta, yang ditulis oleh 14 penulis muda (yang beberapanya sudah terhitung lebih “berumur” ) ini berisi kumpulan cerpen yang menarik untuk dibaca.

beberapa tulisan memang menggunakan bahasa yang sedikitberatuntuk dibaca seorang amatir seperti saya, tetapi disitulah sisi menariknya.

karna saya mengatakan tadi hanya ada beberapa tulisan yang menggunakan bahasa level “expert”, sisanya juga bukan cerita-cerita biasa. tapi cerita menarik dengan bahasa sedikit lebih santai yang bisa membuat kita tersenyum saat mengetahui sebuah ending dari cerita tersebut.

so grab it fast sista agan! *upss*

mungkin kalian akan muntah saat mellihat foto yang saya upload, atau bakal kedip-kedip manja saat melihat wajah saya.

but come on, its all about the books, not me.

BYE! :D

Mau cari Perkara? Nah, Perkara yang satu ini kudu dipunya!

Sumber: Alvina Vanila

Judul Buku : Perkara Mengirim Senja
Penulis : Valiant Budi Yogi, Jia Effendie, M. Aan Mansyur, dan 11 penulis lainnya.
Penyunting : Jia Effendie
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan Pertama : April 2012
ISBN : 978-979-024-502-0

Bagi para penikmat dan pembaca buku Indonesia pasti sudah tak asing dengan nama Seno Gumira Ajidarma (SGA). Beliau adalah salah seorang penulis terbaik Indonesia yang telah menulis puluhan cerpen, novel, puisi, esai bahkan juga pernah mendapatkan penghargaan dari dalam dan luar negeri. Buku Perkara Mengirim Senja ini berisi 15 cerita yang merupakan penafsiran ulang dari karya-karya SGA.

Mau mencoba menjelajahinya? Saya ceritakan beberapa kisah di dalamnya ya. :)

Cerita pertama adalah karya @vabyo , berjudul Gadis kembang, mengisahkan tentang kisah cinta perselingkuhan dalam rumah tangga. Satu kalimat yang saya suka “Rumah memiliki kekuatan Magis bagi penghuninya.” Empat bintang untuk cerita ini. Ending yang manis tapi getir penuh kejutan.

Cerita kedua milik @JiaEffendie berjudul Perkara Mengirim Senja. Sebagai judul utama buku ini, cerita Jia memiliki keistimewaan tersendiri karena permainan kata ganti yang cantik membuat saya sampai membaca tiga kali agar memahami jalan ceritanya. Potongan senja seperti kisah Alina dan Sukab milik SGA menjadi dasar cerita ini. Empat bintang untuk kartupos senja.

Cerita ketiga milik @hurufkecil yang judulnya saja sudah fenomenal (saking panjangnya). Selepas Membaca Sebuah pertanyaan untuk Cinta, Alina menulis dua cerita pendek sambil membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya. Sesuai judulnya, ada dua cerita pendek dalam judul ini yang saya rasa tidak berkaitan. Yang satu tentang ‘terpasung’nya Si Wanita oleh Suaminya dan yang satu lagi tentang seorang Pria yang baru ditinggal pergi istrinya. Dua cerita, empat bintang untuk kepiawaian memainkan akhir cerita.


 Akulah Pendukungmu adalah cerita keenam di buku ini. Cerita yang ditulis @salamatahari ini buat saya memiliki kesan yang berbeda di antara cerita-cerita lainnya. Mungkin karena judulnya yang mengingatkan saya akan penggalan sebuah lagu nasional kita, Garuda Pancasila. Cerita ini menceritakan apa yang dilakukan Sang Garuda ketika hari kebangkitan Pancasila yang disandangnya dirayakan yaitu pada tanggal 1 Oktober. Cerita ini merespon cerpen ‘Joko Swiwi’ dan ‘Pelajaran Mengarang’ milik SGA.Satu kutipan yang saya suka dari cerita ini "Waktu adalah pesaing yang tidak kenal ampun".




Cerita ketiga belas adalah cerita milik @FebyIndirani yang berjudul Surat ke-93. Tentang surat ke-93 yang dikirimkan seseorang terhadap cinta yang mengabaikannya. “Karenanya pengabaian adalah bentuk hukuman paling kejam.” Entah karena kebodohan atau kesetiaan seorang wanita yang membuat saya gemas membaca cerita ini. Merupakan tafsir ulang dari Surat dalam Atas Nama Malam.




Cerita favorit saya adalah cerita dengan judul Gadis tak Bernama karangan @perempuansore. Cerita ini berkisah tentang seorang gadis yang bekerja di Departemen rahasia yang bernama Dinas Penelitian Senja. Pekerjaannya meneliti senja, sampai sedetil-detilnya. Mengukur diameternya, menghitung serat jingganya sampai mengukur hangatnya. Nah, pekerjaan yang romantis bukan? Tapi seperti yang gadis itu bilang, "Pekerjaan Romantis tidak membawamu kepada hubungan yang romantis", maka begitu juga dengan kisah cinta gadis tak bernama ini. Penokohan yang kuat serta plot cerita yang ringan dan bahasa yang menyenangkan untuk dinikmati membuat cerpen ini amat saya suka.

Mungkin karena saya secara pribadi memiliki ketertarikan tersendiri terhadap pemandangan senja, sehingga tentu saja secara sukses membuat saya begitu tergoda ketika cetakan pertama buku ini diluncurkan lewat @PosCinta. Secara keseluruhan, saya menyukai kesemua cerita yang di dalam buku ini. Tidak semuanya bernafaskan senja atau cinta, sebab ada juga yang membahas konflik social seperti di cerita Guru Omong Kosong milik @arnellism atau pada Satu Sepatu, Dua Kecoak milik @salamatahari.


Pemilihan diksi yang kaya juga membuat saya sebagai pembaca terlena sampai tak mau berhenti membaca. Ya, selain karena keindahan bahasa, saya cukup butuh perhatian lebih banyak ketika membaca beberapa cerita yang misterius. Sayangnya, tidak semua cerita ditulis merupakan tafsir ulang karya SGA yang mana, meski beberapa cerita memang mempunyai latar cerita yang sama. Tentang potongan senja, Sukab dan Alina, dimana ketiga elemen tersebut sering muncul di cerita-cerita milik SGA.


Ilustrasi yang apik dan misterius juga memenuhi beberapa halaman, membuat kesan cerita yang digambarkannya lebih dalam dan lebih menawan. Tentu saja empat bintang layak saya berikan untuk buku ini!


Seperti kata Alberthiene Endah, Penulis Mimpi Sejuta Dolar "Sihir cerita dengan aransemen wacana yang memikat."  

Bagi Anda yang penasaran akan buku ini, dapat memesannya melalui @PosCinta, www.poscinta.com/pms/ sampai tanggal 30 April atau membelinya di Toko Buku pada bulan Mei besok. Untuk lebih mengetahui apa itu #PerkaraMengirimSenja, anda bisa berkunjung ke http://perkaramengirimsenja.blogspot.com/